BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada hakekatnya manusia adalah sama, yaitu makhluk berakal yang terdiri
dari unsur jasmani dan rohani. Pembatasan manusia pada jasmaniah, seperti :
perbedaan kulit, ras, bangsa dan wilayah, sebenarnya dibuat oleh manusia itu
sendiri melalui perilakunya.
Namun ketika berbicara tentang rohani, maka disini tidak ada batasan
apapun. Baik warna kulit, rasa tau wilayah. Sebab dalam hal ini satu-satunya
perbedaan yang membatasi adalah, keadaan jiwa “ruh” yang mengimani dan tidak
mengimani. Dalam esensi jiwa inilah, manusia berpikir dan secara tidak
disadari, pada awalnya telah melakukan kegiatan-kegiatan filsafat. Keadaan
manusia yang selalu bertanya-tanya mencari jawaban, dalam rangka memperoleh
kebenaran (epistemologi), adalah
fitrah dasar manusia.
Pencarian kebenaran yang dikenal dengan istilah epistemoligi ini sifatnya
relatif, tergantung kondisi masyarakat, pola pikir dan wilayah dimana mereka
tinggal. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang
terdiri dari dua kata yaitu episteme,
yang berarti pengetahuan (knowledge)
dan logos yang berarti pikiran, teori
atau ilmu. Jadi epistemologi berarti pikiran atau teori tentang pengetahuan
atau ilmu pengetahuan. Istilah lain juga biasa digunakan, yaitu teori
pengetahuan (theory of knowledge)
atau filsafat pengetahuan (philosophy of
knowledge) (Susanto, 2001:136).[1]
William S.
Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian (dalam Suriasumantri, 2007:119) menjelaskan: “epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan
pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan
ruang lingkup pegetahuan? Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan
pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia”[2]
Dari beberapa pendapat ahli diatas
dapat disimpulkan dengan bahasa sederhana bahwa epistemologi merupakan cara
mendapatkan pengetahuan yang benar.
Orang Cina, India, Arab ataupun
Yunani semuanya sama-sama
berfilsafat untuk mencari kebenaran, tapi ada perbedaan tentang nilai-nilai kebenaran antara orang India dan Yunani, China dan Arab, dst. Orang Yunani mencari kebenaran sebagai kebenaran,
sedangkan orang India mencari kebenaran untuk melepaskan diri dari dunia. Orang Cina mencari kebenaran untuk memahami esensi hidup, orang Arab
mencari kebenaran untuk melahirkan keyakinan agar mencapai tingkat “ilahiah”
keimanan pada Tuhan.
Adanya perbedaan-perbedaan pola pikir ini ditentukan pula oleh kebiasaan (behaviorisme) sehari-hari masyarakat, Behaviorisme
berasal dari kata [behavior] yang berarti tingkah laku atau kebiasaan. Behaviorisme
mempelajari perilaku manusia.[3]
Secara khusus pusat perhatian mereka adalah perilaku manusia yang nampak. Di
dalamnya mereka berusaha mengamati hubungan antara stimulus (rangsangan)
dan respon (tanggapan).
John B. Watson[4]
menyatakan bahwa kepribadian manusia merupakan hasil pembentukan kebiasaan dan
kemampuan, terutama yang ditentukan oleh orang lain. Pembiasaan ini pada
akhirnya menciptakan (refleks kondisional), yaitu suatu pola tingkah
laku yang terjadi secara spontan di
masyarakat karena pembiasaan terus-menerus.[5] Dengan demikian, perbedaan pola pikir, budaya dan
filsafat di Cina, India dan Arab sangatlah mungkin terjadi, meskipun ketiganya
masyarakat wilayah timur dan tidak ada pengaruh dari luar (barat).
Perkembangan Filsafat di Dunia pada
awal mulanya terkait erat dengan Agama, baik di Yunani, Cina, Timur Tengah
maupun India. Perkembangan Filsafat Barat khususnya mulai meninggalkan
dogma-dogma agama dan semata-mata menyandarkan pada kekuatan akal budi manusia
dalam mencapai kebenaran. Perkembangan Filsafat India untuk memisahkan diri
dengan agama sangat perlahan sekali bahkan tidak pernah secara sepenuhnya
melepaskan diri dari pemikiran keagamaan , oleh karena tujuan hidup manusia
India adalah menuju pembebasan atau moksa. Filsafat senantiasa bersifat
religious. (Harun: 1979: 9). [6]
Hal paling menarik dalam filsafat timur adalah adanya keseragaman tujuan
walaupun usahanya berbeda-beda, namun inti tujuan pemikiran filsafat mereka
adalah, dalam rangka “mencapai kesempurnaan sebagai manusia”. Untuk
selanjutnya menuju tujuan yang lebih tinggi lagi, yaitu memahami esensi
ketuhanan, dengan maksud mendekatkan diri dan menyadari sepenuhnya kehadiran
Tuhan dalam diri mereka.
Disaat para filosof barat meninggalkan realitas Tuhan dan kedekatannya
dengan manusia. Mereka menyibukan diri dengan realitas materi, yang dianggap
lebih “nyata” dan “ada”. Namun apa yang terjadi di wilayah
timur, seperti Cina, India dan Arab sangatlah jauh berbeda. Justru mereka
berfilsafat, dengan tujuan untuk menemukan dzat yang disebut Tuhan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang
telah dijelaskan maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa saja periodesasi dalam filsafat Timur ?
2.
Apa saja ciri-ciri/karakteristik dari filsafat Timur ?
3.
Apa inti ajaran
filsafat timur ?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan diatas, tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk :
1.
Mengetahui periodesasi dalam filsafat Timur.
2.
Mengetahui ciri-ciri/karakteristik dari filsafat Timur.
3.
Mengetahui inti dasar
ajaran filsafat Timur.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PERKEMBANGAN
FILSAFAT CINA
Cina sebagai salah satu negara yang
memiliki kebudayaan yang tertua didunia memiliki tradisi dan sejarah yang
panjang dalam bidang filsafat. Tradisi filsafat Cina diketahui sudah ada
kira-kira semenjak tahun 600 Sebelum Masehi, bahkan lebih tua dari keberadaan filsafat barat. Hanya saja karena
dipengaruhi oleh hal-hal kepercayaan akan dewa-dewa serta memandang perubahan
yang terjadi di dunia merupakan sifat alami dunia itu sendiri yang bersifat
absolut seperti benda-benda yang ada di dunia itu sendiri, maka penyebaran ajaran filsafat cina ini tidak seperti filsafat barat.
Filasafat tiongkok ini lebih bersifat “khusus” untuk masyarakat tionghoa.
Walaupun sebenarnya, banyak sekali keanekaragaman khasanah ilmu dan pemikiran
yang bermanfaat.
Filsafat Cina indentik dengan adanya
keseimbangan antara urusan duniawi dan surgawi, yang mana dapat dipahami
sebagai bentuk dogmatis terhadap manusia dalam menghadapi kehidupan di dunia
dan kehidupan setelah mati. Diketahui filsafat Cina sebagai sebuah dialektika
kehidupan yang kritis mulai berkembang pada masa Dinasti Zhou (1222-256 SM),
dimana banyaknya peneliti menemukannya naskah-naskah Tionghoa yang sangat klasik yang ada sampai saat ini.
Filsafat tiongkok juga dikenal
dengan istilah Filsafat Cina atau ada juga yang menyebutnya dengan Filsafat
Tionghoa. Kata Cina lebih diketahui orang banyak, karena kata Tiongkok hanya
ada di penggunaan bahasa Indonesia, yang terdeskripsi kepada cina. Sedangkan
Tionghoa lebih kepada orang (Cina).
Peradaban tiongkok telah kita
ketahui sangat maju. Itu terbukti dari banyaknya masyarakat Cina yang memiliki
banyak ahli ilmu astronomi (perbintangan), keahlian bertani dan berperang, dan
sudah mengenal tulisan (tulisan gambar) sejak dulu. Selain itu juga kemajuan
dalam pembuatan benda-benda seni yang terbuat dari keramik misalnya, dan juga
perkembangan teknologinya yang sangat berkembang dari dulu hingga sekarang.
Banyak aspek
yang melatarbelakangi pemikiran filsafat tiongkok. Seperti aspek-aspek
geografis, ekonomi, sikap terhadap alam, sisitem kekerabatan dan lainnya. Dalam
tradisi Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah
menuntut ilmu (belajar) dan mengolah tanah (bertani).
Jenis pekerjaan ini akan
mempengaruhi sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani
mempunyai sifat khusus “kesederhanaan”, dan mereka selalu menerima dan mematuhi
perintah. Merekapun tidak pernah mementingkan diri sendiri. Sifat-sifat yang
demikian inilah yang menjelma dalam sikap hidupnya.
A.
Periodisasi
Filsafat Cina
Pada
perkembangan melewati rentan waktu panjang yang dilalui Filsafat di Cina,
disini Filsafat Cina dapat dikategorikan ke dalam empat periode besar :
1. Jaman Klasik (600-200 S.M)
Menurut tradisi, periode ini
ditandai oleh seratus sekolah filsafat:seratus aliran yang semuanya mempunyai
ajaran yang berbeda. Namun, kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan
secara umum, misalnya tao (jalan), te (keutamaan atau seni hidup), yen (perikemanusiaan), i (keadilan), t’ien (surga) dan yin-yang
(harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip
pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman klasik adalah:
a) Konfusianisme
Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse,
(guru dari suku Kung) hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao
(“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya:
manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup
dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat
dicapai melalui perikemanusiaan (yen),
yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun
tindakan mereka berbeda.[7]
Confusianisme dielopori oleh K’ung
Fu Tzu (551-479 SM), lahir di Shantung. Ia mengatakan, bahwa hendaknya raja
tetap raja, hamba tetap hamba, ayah tetap ayah, anak tetap anak. Sistem
kekerabatan harus didasarkan pada syian
, yaitu suatu perasaan keterikatan terhadap orang-orang yang menurunkannya. Aspek
inilah yang menjadikan budaya Tiongkok tetap diwariskan.[8]
Menurut ajaran Kong Fu Tze. Tao adalah sesuatu kekuatan yang
mengatur segala-galanya dalam alam semesta ini, sehingga tercapai keselarasan.
Masyarakat manusia adalah bagian dari alam semesta ini, maka tata cara hidup
manusia diatur oleh Tao. Oleh karena itu, sesorang harus menyesuaikan diri
dengan Tao, agar dalam kehidupan bermasyarakat terdapat keselarasan dan
keseimbangan. Penganut aliran in percaya bahwa segala bencana yang terjadi di
atas permukaan bumi ini karena manusia menyalahi aturan Tao. Selama 24 abad,
ajaran Kong Fu Tze dianggap oleh bangsa Cina sebagai pegangan hidup, baik bagi
rakyat maupun bagi rajanya. Bahkan sampai sekarang ajaran Kong Fu Tze sangat
besar pengaruhnya terhadapa cara berfikir dan sikap hidup sebagian besar orang
Cina.[9]
b) Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru
tua) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse,
bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao
menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang
bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih
metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika
Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran
ini juga dipentingkan di India (ajaran neti,
na-itu: tidak begitu) dan dalam
filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut docta ignorantia, “ketidaktahuan yang berilmu”).[10]
Semua orang yang mengikuti Tao harus
melepas semua usaha. Tujuan tertinggi adalah meloloskan diri dari khayalan keinginana
dengan renungan secara gaib.Pemikirannya, orang hendaknya memberikan kasih
sayangnya tidak hanya sebatas pada para anggota saja, tetapi harus pada seluruh
anggota keluarga yang lain. Peperangan dan upacara ritual dengan pengeluaran
biaya yang tinggi yang akan merugikan rakyat merupakan suatu yang bertentangan
dengan dasar kecintaan manusia sehingga harus dicela. Kalau kita sayang kepada
orang lain, orang lain akan sayang kepada kita, dan kita tidak perlu takut akan
kejahatan orang lain.[11]
Ajaran Lao Tze tercantum dalam
bukunya yang berjudul Tao Te Ching. Lao Tze percaya bahwa ada semangat keadilan
dan kesejahteraan yang kekal dan abadi, yaitu bernama Tao. Taoisme mengajarkan
orag supaya menerima nasib. Menurut ajaran ini, suka dan duka, bahagia dan
bencana adalah sama saja. Oleh karena itu, orang yang menganut Taoisme dapat
memikul suatu penderitaan dengan hati yang tidak bergoncang meski bagaimanapun.[12] Semua
perbuatan manusia harus sesuai dengan Tao itu, selalu menurut saja, bahkan
tidak berbuat (wu-wei). Dalam
perkembangan selanjutnya Taoisme berubah sifatnya menjadi magi belaka.
Nama-nama yang terpenting adalah Chuang Tze dan Lio Tze.[13]
c)
Yin-Yang
“Yin” dan “Yang” adalah dua prinsip
induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan,
surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin.
Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki,
simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita
merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang
tertentu.
d)
Moisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse,
antara 500-400 S.M. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah “cinta
universal”, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk
memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah
kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa
perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk dimengerti.
Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak berguna.[14]
Mo Tze mengajarkan “cinta kepada
sesama manusia yang universal” sebagai dasar filsafatnya (chien ai). “Universal
love” ini tak hanya menguntungkan bagi yang dicintai tetapi yang mencintai, jadi
timbal-balik. Inilah dasar dari “utilitarisme” Mo Tze dan perbedaannya yang
terbesar dengan filsafat Confucius.[15]
e)
Ming Chia/Dialektisi (kira-kira 370 SM)
Ming Chia atau “sekolah nama-nama”,
menyibukkan diri dengan analisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming
Chia, yang juga disebut “sekolah dialektik”, dapat dibandingkan dengan aliran
sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan
kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang
memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga
terdapat khayalan tentang hal-hal seperti eksistensi, relativitas, kausalitas,
ruang dan waktu.[16]
Meng Tze (372-280) adalah seorang
murid Kong Fu Tze yang melanjutkan ajaran gurunya. Dalam mengajarkan ajarannya,
Meng Tze bertentangan dengan Kong Fu Tze. Meng Tze tidak memberikan pelajaran
kepada kaum bangsawan, tetapi memberikan pengetahuan kepada rakyat jelata.
Menurutnya rakyatlah yang terpenting dalam suatu negara begitu pula apabila raja
bertindak sewenang-wenang trhadapa rakyat, maka tugas para mentri untuk
memperingatkannya. Apabila raja mengabakan peringatan-peringatan itu para
mentri wajib menurunkan raja dari tahtanya.[17] Kung-su-Lung,
Hui Ship. Perhatian besar untuk teori-teori pengetahuan, dengan kegemaran untuk
membuat paradoks-paradoks, seperti terdapat pada Zeno.[18]
f)
Fa Chia (mazhab hukum)
Fa Chia atau “sekolah hukum”, cukup
berbeda dari semua aliran klasik lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang
manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa
Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik
yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu
sistem undang-undang yang keras sekali. Tokoh yang terkenal adalah Han Fei Tzu
dan Li Sse.[19]
Buku-buku yang terkenal adalah Chang
Tze dan Han Fei Tze (kira-kira 395 SM), hukumlah yang merupakan asas persatuan
suatu negara, seluruh kekuasaan harus dipusatkan di tangan raja, rakyat harus
tetap miskin dan lemah, ketakutan akan pidana membawa orang ke kebajikan,
oarang-orang jahat harus menguasai orang-orang baik, diktator yang amoral.[20]
Dari keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa mereka
berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturut-turut: (1) kaum
ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okultisme (dari ahli-ahli magi), (4) kasta
ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli politik.
2. Jaman
Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)
Bersama dengan perkembangan
Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan
dengan “Nirwana” dari ajaran Buddha, yaitu “transendensi di seberang segala
nama dan konsep”, “di seberang adanya”.[21]
Budhisme memasuki Tiongkok pada
permulaan abad ke-1. Pengaruhnya besar sampai pada akhir abad ke-10. Beberapa
nama yang terkenal adalah Chi-Tsang (549-632 M), Chih-K’ai (538-597 M), Shen
Hsiu (600-700 M) dan lain-lain.[22]
3. Jaman
Neo-Konfusianisme (1000-1900)
Dari tahun 1000 M. Konfusianisme
klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat
unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia
ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan
nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam
Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama
sekali asing.
4. Jaman Modern
(setelah 1900)
Sejarah modern mulai di Cina sekitar
tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat
cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa
Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir
di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi,
kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina
dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat Timur.
Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani, filsafat
Helenisme, “filsafat Kristiani”, filsafat Islam, filsafat jaman renaissance,
jaman modern dan masa kini.[23]
B.
Ciri-ciri
Filsafat Cina
Pertama-tama
karena masalah politik dan pemerintahan merupakan masalah sehari-hari yang
tidak dapat dihindarkan, maka filsafat Cina berkecendrungan mengutamakan
pemikiran praktis berkenaan masalah dan kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan
lain ia cenderung mengarahkan dirinya pada persoalan-persoalan dunia.
Para ahli
sejarah pemikiran mengemukakan beberapa ciri yang muncul akibat kecenderungan
tersebut, Pertama, dalam pemikiran kebanyakan orang Cina antara teori dan
pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian pemikiran spekulatif kurang
mendapat tempat dalam tradisi filsafat Cina, sebab filsafat justru lahir karena
adanya berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan yang aktual.
Kedua,
secara umum filsafat Cina bertolak dari semacam ‘humanisme’. Tekanannya pada
persoalannya kemanusiaan melebihi filsafat Yunani dan India. Manusia dan
perilakunya dalam masyarakat dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan menjadi
perhatian utama sebagian besar filosof Cina.
Ketiga,
dalam pemikiran filosof Cina etika dan spiritualitas (masalah keruhanian) menyatu
secara padu. Etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus
tujuan hidupnya. Di lain hal konsep keruhanian diungkapkan melalui perkembangan
jiwa seseorang yang menjunjung tinggi etika. Artinya spiritualitas seseorang
dinilai melalui moral dan etikanya dalam kehidupan sosial, kenegaraan dan
politik. Sedangkan inti etika dan kehidupan sosial ialah kesalehan dan
kearifan.
Keempat,
meskipun menekankan pada persoalan manusia sebagai makhluk sosial, persoalan
yang bersangkut paut dengan pribadi atau individualitas tidak dikesampingkan.
Namun demikian secara umum filsafat Cina dapat diartikan sebagaoi ‘Seni hidup
bermasyarakat secara bijak dan cerdas’. Kesetaraan, persamaan dan kesederajatan
manusia mendapat perhatian besar. Menurut para filosof Cina keselerasan dalam
kehidupan sosial hanya bisa dicapai dengan menjunjung tinggi persamaan,
kesetaraan dan kesederajatan itu.
Kelima,
filsafat Cina secara umum mengajarkan sikap optimistis dan demokratis. Filosof
Cina pada umumnya yakin bahwa manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan
hidupnya dengan menata dirinya melalui berbagai kebijakan praktis serta
menghargai kemanusiaan. Sikap demokratis membuat bangsa Cina toleran terhadap
pemikiran yang anekaragam dan tidak cenderung memandang sesuatu secara hitam
putih.
Keenam,
agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfilsafat. Mereka
menganjurkan masyarakat mengurangi pemborosan dalam penyelenggaraan upacara
keagamaan atau penghormatan pada leluhur.
Ketujuh,
penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam filsafat hukum dan
politik. Pribadi dianggap lebih tinggi nilainya dibanding aturan-aturan formal
yang abstrak dari hukum, undang-undang dan etika. Dalam memandang sesuatu tidak
berdasarkan mutlak benar dan mutlak salah, jadi berpedoman pada relativisme
nilai-nilai.
Kedelapan,
dilihat dari sudut pandang intelektual, Para filosof Cina berhasil membangun
etos masyarakat Cina seperti mencintai belajar dan mendorong orang gemar
melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu sebelum memecahkan dan
melakukan sesuatu. Demikianlah pengetahuan dan integritas pribadi merupakan
tekanan utama filsafat Cina. Aliran pemikiran, teori dan metodologi apa saja
hanya bisa mencapai sasaran apabila dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan
luas dan integratitas pribadi yang kokoh.[24]
C. Perbedaan
antara Filsafat Timur (Tiongkok) dan Filsafat Barat
a) Filsafat Timur (Tiongkok)
1. Etika
merupakan pusatnya.
2. Tingkah laku
dan sikap manusia terhadap dunia sekitar merupakan kesatuan yang selaras dan
seimbang, sebagai mikro kosmos dan makro kosmos.Manusia harus menyesuaikan diri
dengan kodrat alam, sehingga harus harmoni hubungan manusia dengan dunia .
b) Filsafat Barat
1. Rasio
merupakan pusatnya
2. Ontologi,
yaitu ilmu tentang sebab sebab yang pertama menduduki tempat sentral.
3. Manusia
menempatkan diri berhadapan dengan objek yang dipelajari, sehinga manusia
berpikir dengan pertanyaan, seperti apa sebab terjadi peristiwa itu?. Bagaimana
peristiwa itu?. Dari mana datangnya?, dll.[25] Filsafat
Barat menanyakan hubungan sebab-akibat, mencari mengapa dan bagaimana objek
yang diselidiki secara objektif.[26]
D. Kepercayaan Masyarakat Cina/tionghoa Dahulu.
Mengakui adanya Tuhan Surga (Tien), Allah (Ti), dan Shang Ti, Tuhan Yang Mahatinggi yang
mengatasi segala roh-roh (Shen). Magi
(shu-shu) dan astrologi. Arwah-arwah
prang mati akan hidup terus asal diberikan korban-korban.[27]
Sebelum Kung Fu Tze dan Meng Tze mengajarkan
ajarannya, bangsa Cina percaya terhadap para dewa. Mereka memuja dan menganggap
dewa-dewa memiliki kekuatan alam. Menurut kepercayaan bangsa Cina, dunia
digambarkan sebagai segi empat dan diatasnya ditutupi oleh langit yang trdiri
dari 9 lapisan. Ditengah-tengah dunia yang trbentuk segi empat teretak
T’ien-hsia, sebuah daerah yang didiami oleh bangsa Cina. Daerah T’ien-hsia
merupakan daerah yang didiami oleh bangsa-bangsa yang biadab. Diluar daerah
bangsa-bangsa biadab terdapat daerah kosong dan menjadi tempat tinggal
hantu-hantu dan Dewi Pa, yang menguasai musim kemarau.
Dewa-dewa yang menerima pemujaan tinggi adalah:
o
Feng-pa (dewa angin)
o
Lei-Shih (dewa angin taufan dan digambarkan sebagai
naga besar),
o
T’ai-Shah atau dewa yang menguasai bukit suci,
o
Ho-Po, tiap-tiap tahun diberi sesajen yang dijalankan
oleh pendeta-pendeta perempuan dengan mempersembahkan gadis jelita sebagai
istrinya. Gadis itu harus tercantik di seluruh cina dan sesudah dirias, ia
disuruh terjun ke dalam arus sungai Hwang-Ho yang deras itu.[28]
Pengetahuan mereka masih bercorak kudus (sacral,
sacred), “ pemberian” dari Thian (langit) dan bukan obyektif-empirik, hasil
ikhtiar manusia secara sistematik. Cara berfikir pada umumnya masih berdasarkan
firasat dan renungan, belum kritik analitik.[29]
Akar atau sumber alam pikiran rakyat Tiongkok adalah
Taoisme dan Confuscianisme. Taoisme adalah pandangan hidup yang
menitik-beratkan pada hal-hal yang sifatnya naturalistik yang berada dalam diri
manusia. Selain itu, Conficianisme adalah suatu pandangan hidup yang
menitikberatkan pada organisasi sosial dan menekankan kepada tanggunga jawab
manusia terhadap masyarakat.[30]
Di negeri Cina pendidikan itu terikat dengan ajaran
Khong Hu Chu, dengan kepercayaan bahwa ada lima indera dan lima pengaruh
bintang serta lima warna, begitu pula ada lima keutamaan, yaitu keadilan,
kedisiplinan, hikmah, kejujuran dan kebaikan.[31]
2.2 PERKEMBANGAN FILSAFAT INDIA
A. Intisari Filsafat India
Pada
hakekatnya, Filsafat India itu bersifat kejiwaan/kerohanian (spiritual). Dan
yang memungkinkan India sampai dapat bertahan terhadap serbuan-serbuan sepanjang waktu dan
terhadap kejadian-kejadian di luar perhitungan sepanjang Sejarah,
adalah keteguhan jiwa/rohaninya, jadi bukanlah struktur politiknya atau pun
organisasi sosialnya.
Filsafat
India berpangkal pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia
dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Harmoni ini harus disadari supaya
dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan, sebagai penjara. Seorang anak
di India harus belajar bahwa ia karib dengan semua benda, dengan dunia
sekelilingnya, bahwa ia harus menyambut air yang mengalir dalam sungai, tanah
subur yang memberi makanan, dan matahari yang terbit. Orang India tidak belajar
untuk menguasai dunia, melainkan untuk berteman dengan dunia.
B. Periodisasi Filsafat India
Sejarah Filsafat India dibatasi
mulai dari 2000 SM sampai 1000 SM yang dapat dibagi menjadi periode :
1.
Jaman Weda (1500-600 S.M.)
Bangsa Arya masuk India dari utara, sekitar 1500 S.M. Literatur
suci mereka disebut Weda. Bagian terpenting dari Weda untuk filsafat
India adalah Upanisad, yang sepanjang sejarah India akan menjadi sumber
yang sangat kaya untuk inspirasi dan pembaharuan. Peradaban Arya memiliki
benih-benih pemikiran filsafat didalamnya dalam bentuk pujian-pujian dan
nyanyian-nyanyian keagamaan dan dalam perkembanagan selanjutnya mulai ter dapat
dalam Kitab Brahmana dan Kitab Upanisad.(S. Radhakrishnan, Vol.I: 1927: 57)[32]
Suatu tema yang menonjol dalam Upanisad adalah ajaran tentang
hubungan Atman dan Brahman. Atman adalah segi subyektif dari
kenyataan, diri manusia. Brahman adalah segi obyektif, makro-kosmos,
alam semesta. Upanisad mengajar bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa,
mukti) kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman.
2.
Jaman Skeptisisme (Epos) (600 S.M.-200 M.)
Sekitar tahun 600 S.M. Pada jaman ini mulai ada sistim-sistim filsafat
(darsana) dan juga Kitab Ramayana dan Mahabarata yang mengandung kepahlawanan
dan hubungan antara Tuhan dengan manusia serta sistim-sistim agama Buddha,
Jaina, Siwa dan Wisnu. (S. Radhakrishnan, Vol.I: 1927: 57).
Para rahib mengajar suatu “metafisika” yang juga tidak sampai ke
hati orang biasa. Reaksi datang dalam banyak bentuk. Yang terpenting adalah Buddhisme,
ajaran dari pangeran Gautama Buddha, yang memberi pedoman praktis untuk
mencapai keselamatan: bagaimana manusia mengurangi penderitaannya, bagaimana
manusia mencapai terang budi.
Reaksi lain datang dari Jainisme dari Mahawira Jina. Di
samping itu mulai juga kebaktian yang lebih eksklusif kepada Siwa dan Wisnu,
dua bentuk agama yang lebih menarik daripada ritualisme dan spekulasi para imam
dan rahib.
Sebagai kontra-reformasi, muncul dalam Hinduisme resmi enam sekolah
ortodoks (disebut “ortodoks”, karena Buddhisme dan Jainisme, yang tidak
berdasar Weda, dianggap bidaah). Yang terpenting dari sekolah ini adalah
Samkhya dan Yoga. Yoga, dari kata “juj”, “menghubungkan”,
mengajar suatu jalan (“marga”) untuk mencapai kesatuan dengan ilahi.
Samkhya (artinya: “jumlah”, “hitungan”) mengajarkan tema terpenting hubungan
alam-jiwa, kesadaran materi, hubungan Purusa-Prakriti.
3.
Jaman Puranis (300-1200)
Setelah tahun 300, Buddhisme mulai lenyap dari India. Buddhisme
sekarang lebih penting di negara-negara tetangga daripada di India sendiri.
Pemikiran India dalam “abad pertengahan”-nya dikuasai oleh spekulasi teologis,
terutama mengenai inkarnasi-inkarnasi dewa-dewa. Banyak contoh cerita
tentang inkarnasi dewa-dewa terdapat dalam dua epos besar, Mahabharata
dan Ramayana.
Adanya pemikiran kritis rasional dalam
filsafat India , dimana Sutra-sutra itu mulai dikomentari oleh berbagai
komentator-komentator dengan pandangan yang beragam. Muncul sistim-sistim
filsafat seperti Samkya, Yoga, Mimamsa, Vedanta, Waisesika, dan Nyaya. (S.
Radhakrishnan, Vol.I: 1927: 58) [33]
4.
Jaman Muslim (1200-1757)
Dua nama menonjol dalam periode muslim, yaitu nama pengarang
sya’ir Kabir, yang mencoba untuk memperkembangkan suatu agama universal,
dan Guru Nanak (pendiri aliran Sikh), yang mencoba menyerasikan
Islam dan Hinduisme.
5.
Jaman Modern (setelah 1757)
Jaman modern, jaman pengaruh Inggris di India, mulai tahun 1757.
Periode ini memperlihatkan perkembangan kembali dari nilai-nilai klasik India,
bersama dengan pembaharuan sosial. Nama-nama terpenting dalam periode ini
adalah Raja Ram Mohan Roy (1772-1833), yang mengajar suatu monoteisme
berdasarkan Upanisad dan suatu moral berdasarkan khotbah di bukit dari Injil, Vivekananda
(1863-1902), yang mengajar bahwa semua agama benar, tapi bahwa agama Hindu
paling cocok untuk India; Gandhi (1869-1948), dan Rabindranath Tagore
(1861-1941), pengarang syair dan pemikir religius yang membuka pintu untuk
ide-ide dari luar.
Sejumlah
pemikir India jaman sekarang melihat banyak kemungkinan untuk dialog antara
filsafat Timur, yang dianggap terlalu mistik dan filsafat Barat, yang dianggap
terlalu duniawi. Radhakrishnan (1888-1975) mengusulkan pembongkaran batas-batas
ideologis untuk mencapai suatu sinkretisme hindu-kristiani, yang dapat
berguna sebagai pola berpikir masa depan seluruh dunia. Sementara itu, filsafat
India dapat belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat
dapat belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenai
identitas makrokosmos dan mikrokosmos.
5.2 PERKEMBANGAN FILSAFAT ISLAM
Prof. Tohir Abdul Mu’in, menyatakan Apabila Filsafat
tersebut disebut dengan Filsafat Arab, berarti mengeluarkan orang Iran, orang
Afganistan, orang Pakistan dan orang India.
Dengan menyebut Arab, berarti seharusnya
mengecualikan Ibnu Sina dan al-Ghazali yang berasal dari Persia dan al-Farabi
yang berasal dari Turki. Dan bukankah juga motif para filsuf ini lebih didorong
oleh motif dan semangat peradaban Islam dibandingkan semangat ke Araban.[34]
Oleh sebab itu bisa lebih tepat digolongkan kedalam
filsafat islam, karena kebanyakan pola dan dasar pemikirannya merupakan nilai
islam namun ditulis dalam tulisan arab. Berikut ini periode pemikiran filsafat
Islam:
·
Periode Mu’tazilah. Mulai abad ke-8 sampai abad ke-11
Periode Filsafat Pertama. Mulai dari abad ke-8
sampai dengan bad ke-11.
·
Periode Kalam Asy’ari’. Periode ini berlangsung mulai abad ke-9
sampai abad ke-11.
·
Periode Filsafat Kedua. Mulai abad ke-11 sampai abad ke-12.
·
Dalam periode Mutakallimin (700 – 900), muncul mazhab-mazhab
al-Khawarij, Murji’ah, Qadariyyah, Jabariyyah, Mu’tazilah, Ahli Sunnah
Wal-Jama’ah.
Setelah periode ini berlangsung, pemikiran filsafat
komtemporer mulai berkembang yang mana diawali oleh pemikiran Mushthafa 'Abd
al-Raziq (1885-1946), yang mana akal dan rasio semakin ditingkatkan dalam
pemikirannya. Kemudian, kebanyakan pemikiran pada masa ini banyak dipengaruhi oleh
filsafat barat.
A. Faktor Munculnya Filsafat Islam
Filsafat Islam
terdiri dari dua kata. Filsafat diartikan sebagai berpikir bebas, radikal dan
dalam dataran makna. Bebas artinya tidak ada pikiran yang menghalangi bekerja.
Sedangkan kata Islam , secara sematik berasal dari kata salima
artinya menyerah, tunduk dan selamat. Jadi pada hakekatnya adalah berpikir
bebas, radikal dan berada pada taraf makna yang memiliki sifat, corak dan
karakter yang menyealamatkan dan menberikan kedamaian hati.[35]
Pemikiran
filsafat masuk ke dalam Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai kaum
Muslimin pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hijriah di Suriah, Mesopotamia,
Persia, dan Mesir.
Dalam Ensiklopedi Islam terbitan
Ichtiar Baru Van Hoeve dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke
daerah-daerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323
SM), setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela (sebelah
timur Tigris).
Alexander Agung datang dengan tidak
menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha
menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat
kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di
Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh
kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu
perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab.
Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena
orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur
pemerintahan pusat.
Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya
hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya.
Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan
lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makmun
(198-218 H/813-833 M).
Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak
terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan
berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan
sejak masa klasik Islam.
Filasafat Islam tumbuh oleh dua
lingkungan yang hidup sezaman yang sama-sama meletakkan sendi-sendi kajian
rasional Islam. Menurut Madkour pertama, lingkungan kaum penerjemah yang
memasok dunia Islam dengan buah pemikiran kelasik baik Timur maupun Barat.
Kedua, lingkungan sekte teologis Islam, khususnya Muktazilah.[36]
Perkembangan filsafat Islam, hidup
dan memainkan peran signifikan dalam kehidupan intelektual dunia Islam. Jamal
al-DÄ«n al-Afgani, seorang murid Mazhab Mulla Shadra saat di Persia,
menghidupkan kembali kajian filsafat Islam di Mesir. Di Mesir, sebagian tokoh
agama dan intelektual terkemuka seperti Abd. al-Halim Mahmud, Syaikh al-Azhar
al-marhum, menjadi pengikutnya.
Filsafat Islam di Persia, juga terus
berkembang dan memainkan peran yang sangat penting meskipun terdapat
pertentangan dari kelompok ulama Syi’ah. Tetapi patut dicatat bahwa Ayatullah
Khoemeni, juga mempelajari dan mengajarkan al-hikmah (filsafat Islam)
selama berpuluh puluh tahun di Qum, sebelum memasuki arena politik, dan juga Murtadha
Muthahhari, pemimpin pertama Dewan
Revolusi Islam, setelah revolusi Iran 1979, adalah seorang filosof
terkemuka. Demikian pula di Irak, Muhammad Baqir al-Shadr, pemimpin
politik dan agama yang terkenal, adalah juga pakar filsafat Islam.
B. Periodisasi
Perkembangan Filsafat Islam
Filsafat Islam mengalami masa
gemilang mulai abad ke-8 smpai abad ke-13. pada masa ini berkembang penerjemah
ke dalam bahasa arab karya-karya filosof Yunani atas dorongan khalifah-khalifah
Bani Abbasiah, yaitu; Al-Mansyur, Harun Al-rosyid, kemudian Al-Makmun.
Berdirilah Perguruan Bait al Hikmah selain sebagai pusat penerjemah,
juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains.
Kontak pertama orang Islam dengan
Ilmu Pengetahuan dan filsafat Yunani adalah pada saat Khalifah Harun Al Rasyid
mengirimkan orang-oarang Islam ke Kerajaan Romawi di Eropa. Harun Nasution
mengatakan ;
“Orang-orang dikirim ke Kerajaan
Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip. Pada mulanya yang dipentingkan adalah
buku-buku mengenai kedokteran, tetapi juga mengenai ilmu pengetahuan-ilmu
pengetahuan lain dan filsafat. Buku-buku itu diterjemahkan dulu ke alam bahasa
Syria, bahasa Ilmu pengetahuan di Mesopotamia diwaktu itu, kemudian baru ke
dalam bahasa arab. Akhirnya penerjemah langsung ke dalam bahasa Arab,”[37]
Pemikiran Filsafat Islam telah
muncul dan dikenal dalam alran-aliran teologis (kalamiah). Sejak abad 7 sampai
tahun permulaan abad 13 kajian filosofis bercmpur dengan kajian-kajian
teologik, bahkan hidup bersama berdampingan. Maka muncullah istilah suluk,
al-Ittihad, hulul, wihdatul wujud. Ini semua bentuk-bentuk tasawuf
berlandasakan pada sendi-sendi filsafat dan teori tentang al-Wujud (ontologi)
dan al-Ma;rifah (epistimologi) mirip dengan teori para filosof.
Berbagai perbedaan yang timbul
antara pemikiran yang rasional (filsafat) dengan rasa (tasawuf) tidak
menyebabkan ada orang Islam yang didominasi oleh pemikiran akal secara total,
demikian sebaliknya tidak ada yang di dominasi sepenuhnya oleh rasa (hati)
seratus persen. Buktinya adalah tidak ada filpsof Islam maupun sufi yang
meninggalkan iman, apalagi yang mengambil faham materialisme atau
atheisme. Perkembangan
periodisasi filsafat Islam sebagai berikut:
1. Periode awal perkembangan Islam
Pemikiran mengenai filsafat
pendidikan pada periode awal ini merupakan perwujudan dari kandungan ayat-ayat
al-Qur’an dan al-hadis, yang keseluruhannya membentuk kerangka umum ideologi
Islam. Dengan kata lain, bahwa pemikiran pendidikan Islam dilihat dari segi
al-Qur’an dan hadis, tidaklah muncul sebagai pemikiran yang terputus, terlepas
hubungannya dengan masyarakat seperti yang digambarkan oleh Islam. Pemikiran
itu berada dalam kerangka paradigma umum bagi masyarakat seperti yang
dikehendaki oleh masyarakat. Dengan demikian pemikiran mengenai pendidikan yang
dilihat dalam al-Qur’an dan hadis mendapatkan nilai ilmiahnya. Pada periode
kehidupan Rasulullah Saw tampaknya mulai terbentuk pemikiran pendidikan yang
bersumber dari al-Qur’an dan Hadits secara murni. Jadi hal-hal yang berkaitan
dengan pendidikan berbentuk pelaksanaan ajaran al-Qur’an yang diteladani oleh
masyarakat dari sikap dan prilaku hidup Nabi Muhammad saw.
2. Periode klasik
Periode klasik mencakup rentang masa
pasca pemerintahan khulafa’ al-Rasyidun
hingga awal masa imperialis Barat. Rentang waktu tersebut meliputi awal
kekuasaan Bani Ummayah zaman keemasan Islam dan kemunduran kekuasaan Islam
secara politis hingga awal abad ke-19.
Walaupun pembagian ini bersifat
tentative, namun terdapat beberapa pertimbangan yang dijadikan dasar pembagian
itu. Pertama, sistem pemerintahan; kedua, luas wilayah kekuasaan; ketiga, kemajuan-kemajuan yang dicapai;
dan keempat,
hubungan antar negara.
Dari dasar pertimbangan tersebut,
maka diketahui bahwa di awal periode klasik terlihat munculnya sejumlah
pemikiran mengenai pendidikan. Pemikiran mengenai pendidikan tersebut tampak
disesuaikan dengan kepentingan dan tempat serta waktu.
Perkembangan filsafat pendidikan
Islam pada periode klasik ini masih menyimpan tokoh-tokoh seperti ; Ibnu
Masarrah (269-319) yang pemikirannya menyangkut tentang jiwa dan sifat-sifat
manusia, Ibnu Maskawaih (330-421), pemikirannya tentang pentingnya pendidikan
akhlak, Ibnu Sina (370-428), karya besarnya as-Syifa dan al-Qanun al-Tibb
sebuah karya ensiklopedi kedokteran, dan Al-Gazali (450/1058-505/1111 M), karya
besarnya sering menjadi acuan berbagai pandangan masyarakat dan sangat terkenal
yaitu Ihya’ Ulum al-Din, menurutnya
bahwa pendidikan yang baik adalah yang dapat mengantarkan manusia kepada
keridhaan Allah swt., yang tentunya selamat hidup dunia dan akhirat.
3. Periode Modern
Periode modern merujuk pada
pembagian periodesasi sejarah Islam, yaitu menurut Harun Nasution, bahwa
periode modern dimulai sejak tahun 1800 M. periode ini ditandai dengan
dikuasainya Bani Abbas dan Bani Ummaiyah secara politik dan dilumpuhkan oleh
imperialis Barat.
Namun ada tiga kerajaan besar Islam
yang masih memegang hegemoni kekuasaan Islam, yaitu Turki Usmani (Eropa Timur
dan Asia-Afrika), kerajaan Safawi (Persia), dan kerajaan Mughol (India).
Puncak dari pemikiran filsafat
pendidikan Islam periode modern terangkum dalam komperensi pendidikan Islam
sedunia di Makkah tahun 1977 sebagai awal pencetusan konsep tentang penanganan
pendidikan Islam. Selanjutnya di Islamabad (1980) menghasilkan pedoman tentang
pembuatan pola kurikulum, di Dhakka (1981) menghasilkan tentang perkembangan
buku teks, dan di Jakarta (1982) telah menghasilkan tentang metodologi
pengajaran.
C. Ciri - Ciri Filsafat
Islam
Setiap ragam pemikiran dan kebudayaan memiliki ciri khas dan pola pikir nya
masing-masing. Berikut ini ciri-ciri filsafat islam adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Filsafat Relegius
Topik-topik filsafat Islam bersifat relegius, dimulai
dengan meng-Esakan Tuhan dan menganalisis secara universal dan menukik ke teori
keTuhanan yang tak terdahuluaisebelunya. Seolah-olah menyaingi alairan kalamiah
Mu’tazilah dan Asy’ariyah yang mengoreksi kekurangan nya dan berkonsentrasi
mengambarkan Allah Yang Maha Agung dalam pola yang berlandasan tajrid
(pengabstrakan), tanzih (penyucian), keesaan mutlak dan kesempurnaan total.
Dari Yang Esa ber-emanasi segala sesuatu. Karena Ia pencita, maka Ia
menciptakan dari bukan sesuau, menciptakan alam sejak azzali, mengatur dan
menatanya. Karena alam merupakan akibat bagi-Nya, maka dalam wujud dan
keabadian-Nya, maka Ia menciptakannya karena semata-mata anugerah-Nya.[38]
2. Filsafat Rasional
Akal manusia juga merupakan salah satu potensi jiwa
dan disebut rasional soul. Walaupun berciri khas relegius-spritual,
tetapi tetap bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan,
manusia dan alam, karena wajib al-wujud adalah akal murni. Ia adalah obyek
berpikir sekaligus obyek pemikiran.[39]
3. Filsafat Sinkretis
Filsafat Islam memadukan antara sesama filosof.
Memadukan berarti mendekatkan dan mengumpulkan dua sudut, dalam filsafat ada
aspek-aspek yang tidak sesuai dengan agama. Sebaliknya sebagian dari teks
agama ada yang tidak sejalan dengan sudut pandang filsafat. Para filosuf Islam
secara khusus konsentrasi mempelajari Plato dan Ariestoteles. Untuk itu mereka
menerjemahkan dialog-dialog penting Plato. Republik, hukum, Themaus, Sophis,
Paidon, dan Apologia (pidato pembelaan Socretes).[40]
4. Filsafat yang Berhubungan Kuat dengan Ilmu Pengetahuan
Saling take and give, karena dalam
kajian-kajian filosof terdapat ilmu pengetahun dan sejumlah problematika
saintis, sebaliknya dalam saintis terdapat prinsip-prinsip dan teori-teori
filosofis. Filosof Islam menganggap ilmu-ilmu pengetahuan rasional
sebagai bagian dari filsafat. Misalnya adalah buku As-Syifa’
milik Ibnu Sina yang merupakan Encyclopedia, Al-Qanun, kemudian
Al-Kindi mengkaji masalah-masalah matematis dan fisis. Al-Farabi mempunyai
kajian Ilmu ukur dan mekanik.[41]
D. Tokoh – Tokoh
Filsafat Islam
1. Al-Kindi
Hidup pada tahun 796-873 M
pada masa khalifah al-Makmun dan al-Mu’tashim. Al-Kindi
menganut aliran Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Menurut
Al-Kindi filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Kata
Al-Kindi : Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah filsafat
utama, yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab dari segala
yang benar. Masih menurut Al-Kindi kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada
dalam akal dan yang ada diluar akal.
Di dalam alam terdapat benda-benda
yang dapat ditangkap dengan panca indra. Benda-beanda ini merupakan juz’iyat.
Yang terpenting bagi filsafat bukan juz’iyat yang tak terhingga
banyaknya, tetapi yang terpenting adalah hakekat yang terdapat dalam juz’iyat,
yaitu kauliyat.[42] Kemudian filsafatnya yang lain
yaitu tentang jiwa an roh.
2. Al-Farabi
Al-Farabi hidup tahun 870-950 M, dia
meninggal dalam usia 80 tahun. Filsafatnya yang terkenal adalah teori emanasi
(pancaran). Filsafatnya mengatakan bahwa yang banyak ini timbul dari Yang Satu.
Tuhan bersifat Maha Satu tidak berubah, jauh dari materi , jauh dari arti
banyak, Maha sempurna dan tidak berhajat apapun. Kalau demikian hakekat sifat
Tuhan, bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha
satu?
Menurut Al-Farabi alam terjadi
dengan cara emanasi atau pancaran dari Tuhan yang berubah menjadi suatu maujud.
Perubahan itu mulai dari akal pertama sampai akal kesepuluh. Kemudian dari akal
kesepuluh muncullah berupa bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi
dasar dari empat unsur: api, udara, air dan tanah. Pada falsaft kenabian dia
mengatakan bahwa Nabi dan rasul adalah pilihan, dan komunikasi dengan akal
kesepuluh terjadi bukan atas usaha sendiri tetapi atas pemberian Tuhan.[43].
3. Ibnu Sina
Ibnu Sina lahir di Asyfana 980 M dan
wafat di Isfahana tahun 1037 M. pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu
Sina adalah tentang jiwa. Ibnu Sina juga manganut paham pancaran, jiwa
manusia memancar dari akal kesepuluh. Dia membagi jiwa dalam tiga bagian, yaitu
jiwa tumbuh-tumbuhan (nafsu nabatiyah), jiwa binatang ( nafsu
hayanawiyah), dan jiwa manusia (nafsu natiqah).
Filsafat tentang wahyu dan nabi ia
berpendapat, bahwa Tuhan menganugrahkan akal meteriil yang besar lagi kuat yang
disebut al-hads (intuisi). Tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan
dengan akal aktif dan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan.
Akal yang seperti ini mempunyai daya suci (quwwatul qudsiyah). Ini bentuk akal
tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada nabi-nabi.[44]
Dari beberapa kajian diatas, filosof
muslim dlam pemikirannaya selalu bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio
digunakan secara bebas dab radikal namun masih terkendali oleh wahyau
yang merupakan pangkal dari agama Islam.
4. Ibnu Miskawaih (W. 1030 M).
Beliau lebih dikenal dengan filsafat
akhlaknya yang tetuang dalam bukunya, Tahzib al-Akhlak. Menurutnya, akhlak
adalah sikap mental atau jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa
pemikiran yang dibawa sejak lahir. Kemudian ia berpendapat bahwa jiwa tidak
berbentuk jasmani dan mempunyai bentuk tersendiri. Jiwa memiliki tiga daya yang
pembagiannya sama dengan pembagian al-Kindi. Kesempurnaan yang dicari oleh
manusia ialah kebajikan dalam bentuk
ilmu pengetahuan dan tidak tunduk
pada hawa nafsu serta keberanian dan keadilan.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang
mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat asal
mula filsafat dari gabungan dari keduanya.
Filsafat
Barat adalah hasil pemikiran radikal oleh filosof Barat sejak abad pertengahan
sampai modern, sedangkan filsafat Islam adalah berpikir bebas, radikaldan
berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak dan karakter yang
menyelamatkan dan kedamaian hati.
Perjalanan
filsafat Barat dimulai dari masa Yunani Kuno, yang terfokus pada pemikiran asal
kejadian alam secara rasional. Segala sesuatu harus atas dasar logika. Kemudian
masa abad pertengahan filsafat berubah arah menjadi bersifat teosentrik, segala
kebenaran ukurannya adalah ketaatan Gereja, maka mereka banyak berasal
dari kalangan pendeta (agamawan). Pada perjalanan berikutnya para
pendeta dogmatis itu ditinggal para ilmuwan yang kemudian beralih pada
pemikiran yang bercorak bebas, radikal, dan rasional yang realis.
Filsafat
Islam segala bentuk pemikiran ilmuwan muslim yang mendalam secara teoritis
maupu.n empiris,
bersifat unversal yang berlandaskan wahyau. Filsafat Islam merupakan pengembangan
filsafat Plato dan Aristoteles yang telah dilandasi dengan ajaran Islam dan
memadukan antara filsafat dan Agama. Filsafat yang bercirikan religius dan
berusaha sekuat tenaga memasukkan teks agama dengan akal.
Perbandingan
antara Filsafat Barat dan Filsafat Islam adalah sebagai
berikut :
Persamaannya, sama-sama
berpikir radikal, bebas. Kedua-duanya menggunakan logikal akal,
dialektika. Kedua-duanya berfikir tentang realitas alam, kosmologi.
Perbedaannya:
a. Filsafat
Barat
-
Mengguakan rasio
-
Berpijak pada hal-hal yang konkrit
-
Hanya berfilsafat
b. Filsafat
Islam
-
Berfilsafat menggunakan akal dan bersandar pada wahyu.
-
Ruang lingkup pembahasannya yang abstrak maupun
konkrit, fisik maupun metafisik.
-
Berfilsafat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami
realitas alam.
-
Berfilsafat dimulai dengan keimanan kepada Allah.
2.
Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka setiap
pembahasan mengenai konsep menjalani kehidupan ini diharapkan memiliki dua
misi, yaitu hidup saat ini (dunia) dan hidup setelah mati (akhirat). Melalui
kajian ini diharapkan agar upaya dan usaha yang menjadi pembaharuan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan moril.
DAFTAR
PUSTAKA
-
Susanto, A. 2011. Filsafat ilmu: Suatu Kajian dalam
Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:Bumi Aksara,
-
Suriasumantri, Jujun S.2007. Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
-
A. Mangunhardjana, Isme-Isme Dari A Sampai Z,
Kanisius, Yogyakarta, 1997,
-
John B. Watson Psychology as the Behaviorist Views It.
( Ensiklopedi Nasional Indonesia, Vol.3, PT. Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1989
-
Dr. A. Supratiknya, Teori-Teori Sifat Dan Behavioristik,
Kanisius, Yogyakarta, 1993,
-
Harun Nasution, Filsafat Agama, 1979, penerbit Bulan
Bintang, Jakarta,
-
Archadi. Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: Rajawali Pers.
-
I Wayan Badrika., Sejarah Nasional dan Umum, Jakarta:
Erlangga, 2004,
-
Burhanuddin Salam., Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi,
Jakarta: Rineka Cipta, 2000,
-
SI Poeradisastra., Sumbangan Islam kepada Ilmu dan
Peradaban Modern, Jakarta: Guna Aksara,
1986,
-
Abdur Rahman Umdirah, Metode Al-Qur’an dalam Pendidikan,
Surabaya: Mutiara Ilmu.,
-
Radhakrshnan, Sarvepalli: “ Indian Philophy” Vol. I,
London, George Allen & Unwin Ltd., 1927,
-
Radhakrshnan, Sarvepalli: “ Indian Philophy” Vol. I,
London, George Allen & Unwin Ltd., 1927,
-
Musa Asy’ari, Filsafat Islam, (Yogyakarta;
LESFI,1999),
-
Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2004),
-
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 2006), cet. Ke-12,
-
Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2004),
-
Harun
Nasutiaon, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta; Universitas Indonesia,
1982)
-
http://labibsyauqi.blogspot.com/2009/06/filsafat-cina-sejarah-singkat-tokoh-dan.html
-
http://filsafat-unhi.blogspot.com/2012/12/filsafat-timur-tiongkok.html
-
http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Jurnal/Arab4.html
[1] Susanto, A. 2011. Filsafat ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi
Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:Bumi Aksara, hlm.136
[2] Suriasumantri, Jujun S.2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm.119
[4]John
B. Watson adalah pendiri aliran psikologi behaviorisme. Ia pernah belajar di
Universitas Chicago yang merupakan pusat fungsionalisme. Namun karena tidak
setuju dengan fungsionalisme akhirnya ia pindah ke Universitas John Hopkins.
Karya Watson yang dianggap sebagai titik
tolak berdirinya psikologi behaviorisme adalah Psychology as the Behaviorist
Views It. ( Ensiklopedi Nasional Indonesia, Vol.3, PT. Cipta Adi
Pustaka, Jakarta, 1989, hal:238-239
[6] Harun Nasution, Filsafat
Agama, 1979, penerbit Bulan Bintang, Jakarta, Hal.9
[7]
http://labibsyauqi.blogspot.com/2009/06/filsafat-cina-sejarah-singkat-tokoh-dan.html
[9]
I Wayan Badrika., Sejarah Nasional dan
Umum, Jakarta: Erlangga, 2004, hal. 182.
[10]
http://labibsyauqi.blogspot.com
[26]
Burhanuddin Salam., Op. Cit, hal. 68
[27]
Ibid., hal. 69
[28]
I Wayan Badrika, Op.Cit, hal.183
[29]
SI Poeradisastra., Sumbangan Islam kepada
Ilmu dan Peradaban Modern, Jakarta:
Guna Aksara, 1986, hal.5
[30]
Fil um
[31]
Abdur Rahman Umdirah, Metode Al-Qur’an
dalam Pendidikan, Surabaya: Mutiara Ilmu., hal. 16
[32] Radhakrshnan, Sarvepalli: “ Indian Philophy” Vol. I, London, George
Allen & Unwin Ltd., 1927, hal.57
[33] Radhakrshnan, Sarvepalli: “ Indian Philophy” Vol. I, London, George
Allen & Unwin Ltd., 1927, hal 58
[34] http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Jurnal/Arab4.html
[35] Musa Asy’ari, Filsafat Islam, (Yogyakarta; LESFI,1999), hal. 6
[36] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2004), hal. 115
[37] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 2006), cet. Ke-12, hal. 4
[38] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2004), hal.245
[39] Ibid, hal. 247
[40] Ibid, hal. 250
[41] Ibid, hal. 250
[42] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 2006), cet. Ke-12, hal 7
[43] Harun Nasutiaon, Akal dan
Wahyu dalam Islam, (Jakarta; Universitas Indonesia, 1982) , hal. 20
[44] Ibid, hal. 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar